GAPKI: Moratorium Sawit Melahirkan Kegaduhan Baru

0

YOGYAKARTA, gomediaku.com-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meyakini bahwa rencana moratorium sawit bakal menimbulkan kegaduhan baru. Apalagi, jika kebijakan tersebut menyasar soal tanam ulang.

Sekjen Gapki, Togar Sitangang mengakui, banyak rumor yang mengemuka perihal rencana anyar yang diungkap langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Salah satunya, moratorium tanam sawit yang bila diterapkan, membuat pelaku usaha harus menanggung tugi besar. ”Moratorium yang kita dengar, rumornya penanaman (sawit) dihentikan (moratorium). Tapi itu baru katanya. Soal apa sebenarnya, kita enggak tahu,” kata Togar kepada wartawan di Yogyakarta, Rabu (27/4/2016).

Togar mengatakan, kebijakan moratorium tanam, sama halnya dengan mematikan bisnis sawit pelaku usaha. Pasalnya, sawit merupakan tanaman perkebunan yang memerlukan proses tahunan untuk bisa berproduksi. Berbeda dengan produk hasil pertanian komoditas jagung yang bisa dipanen dalam jangka waktu enam bulan.

”Misalnya sekarang start nih stop. Oke dicabut tahun depan. Kita akan kehilangan dua tahun. Minimal dua tahun. Belum lagi perusahaan itu harus renegosiasi dengan bank, buka segala macam. Setidaknya dua tahun kekosongan,” kata Togar,sebagaimana dilansir inilah.com.

Tak hanya merugikan pelaku usaha sawit, moratorium tanam berpotensi merugikan pengusaha bibit. Dalam beberapa tahun, usaha bibit sawit tidak memperoleh pasar secara jelas. ”Kita enggak bisa beli bibit terus tanam. Nah itu pengaruhnya ke perusahaan bibit-bibit ini gimana?” tuturnya.

Meski begitu, pihaknya belum bisa memberi gambaran terkait hilangnya penerimaan rutin (potential loss) dari bisnis sawit pascapenerapan kebijakan moratorium. Yang jelas, pelaku sawit merugi dari sisi waktu. ”Kita belum buat. Tapi intinya loss waktu. Enggak bisa dihitung kan. Gimana hitungnya?” kata Togas. (ee)

Ilustrasi. (f: inilah.com)

Baca Juga  Nasabah BRI Menanti Hadiah Utama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan Masukkan Komentarmu
Silakan Masukkan Nama Disini