Karut-marut Pendidikan Indonesia, dari Joki sampai Ijazah Palsu

0

JAKARTA, gomediaku.com-Wajah pendidikan Indonesia lagi-lagi tercoreng dengan isu jual beli ijazah bodong kembali mencuat akhir-akhir ini. Isu tersebut berawal dari laporan masyarakat yang masuk ke Menteri Riset Teknologi (Kemenristek) dan Dikti terkait adanya 18 perguruan tinggi yang melakukan praktik transaksi jual beli ijazah dan mengeluarkan ijazah palsu.

Dari laporannya, ke-18 perguruan tinggi tersebut terdapat di wilayah Jabodetabek dan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu perguruan tinggi yang melakukan praktik jual-beli ijazah adalah sebuah perguruan tinggi di Bekasi.

Selain perguruan tinggi tersebut, berdasarkan pengaduan, ada beberapa perguruan tinggi di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi yang mengeluarkan ijazah palsu untuk lulusan sarjana S1.

Perguruan Tinggi tersebut diketahui memberikan ijazah S1 kepada lulusannya tanpa mengikuti proses perkuliahan yang lazim dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi. Bahkan, dari laporannya mahasiswa kampus tersebut hanya mengikuti kuliah setahun dua tahun sudah bisa memperoleh ijazah sarjana S1 dengan membayar sejumlah uang.

Mendapat laporan tersebut, Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir mengancam akan menindak tegas pihak kampus yang melakukan jual beli ijazah bodong. Nasir juga mengancam akan segera menutup sejumlah perguruan tinggi yang diduga melakukan transaksi jual beli ijazah serta mengeluarkan ijazah palsu.

”Saya segera mencabut izin dan menutup perguruan tinggi (PT) yang melakukan transaksi jual-beli ijazah dan mengeluarkan ijazah palsu,” kata Menristek Dikti Mohamad Nasir kepada wartawan di Jakarta, Minggu (17/5), sebagaimana dilansir merdeka.com.

Menurut dia, praktik jual-beli ijazah sarjana telah berlangsung sejak lama dan dilakukan secara sistematis oleh oknum-oknum perguruan tinggi dan menggunakan nama sejumlah pejabat di Kementerian Pendidikan kala itu. Dia berjanji bakal mengusut tuntas kasus tersebut.

Baca Juga  Bupati Rohil Tanggapi Cepat Kebutuhan TK Simpang Benar Tanah Putih

”Jangankan gelar doktor yang tidak sah, bila ada guru besar yang melakukan plagiasi, maka gelar guru besarnya langsung saya cabut,” kata Nasir.

Sebelum kasus jual beli ijazah bodong ramai, publik lebih dulu dihebohkan oleh kasus perjokian untuk masuk perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Empat orang ditetapkan tersangka dalam kasus ini.

Para pelaku diamankan saat mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru untuk Fakultas Kedokteran yang sudah berlangsung sekitar 30 menit. Keempat pelaku yang sudah ditetapkan tersangka berada dalam satu jaringan.

Mereka dengan perannya masing-masing diduga bekerja sama dalam kasus tersebut. Keempat pelaku yang sudah ditetapkan tersangka masing-masing R (19) warga Jalan Semeru Gang Buntu Kelurahan Sisir, Kota Batu, KN (18) warga Desa Kuta RT 1/RW 1, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Polisi juga menetapkan tersangka kepada BPW (20) warga Dusun Ngepeh, RT 9/ RW 5, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, dan RPL warga Jalan AMD III No 4 RT/ RW 3 Kelurahan Hilir Super, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Sementara tiga pelaku lain tidak memenuhi unsur pidana.

Masing-masing adalah Mg (49) warga Karangan Jaya, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, dan SW (38) warga Kaliasin, Keluarahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, serta EAS (22) warga Dusun Brumbung RT 2 RW 1 Desa Sumberagung, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Rektor UMM, Muhadjir Effendy yakin kasus perjokian di kampusnya dapat dijerat dengan pasal pidana. Penangkapan yang dilakukan oleh polisi dan petugas keamanan kampus disertai alat bukti yang lengkap berikut para pelakunya.

”Saya yakin untuk kasus yang ini bisa dijerat. Kita akan terus ikuti perkembangannya, karena polisi juga sedang bekerja mengembangkan kasusnya,” katanya.

Baca Juga  Wabup Rohil Tinjau Pelaksanaan UN di 7 Sekolah di Kecamatan Bangko

Sebelumnya UMM juga menangkap 32 orang joki saat tes masuk perguruan tinggi tahun 2012. Namun berhasil lolos dari jeratan hukum, karena tidak ada bukti kuat dan pasal yang digunakan untuk menjerat pelaku. Kini kejadian itu kembali terulang selang waktu tiga tahun.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan Masukkan Komentarmu
Silakan Masukkan Nama Disini