Eksotisme Bono “Gelombang 7 Hantu”

0
Photo : siperubahan.com

PELALAWAN, AMIRARIAU – Bono adalah alunan gelombang besar yang terjadi bersamaan dengan pasang naik dan pasang surut dengan ketinggian puncak gelombangnya mencapai 4 – 6 meter. Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air, yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran Air Sungai Kampar yang berbenturan di muara sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan perahu serta kapal-kapal baik besar maupun kecil. Fenomena alam ini merupakan satu-satunya di Indonesia.

https://gotamasya.files.wordpress.com/2012/09/bono_new.jpg

Menurut legenda, konon bono ini mulai terjadi tahun 1615 M saat itu sungai Kampar masih bernama laut embun, dimana tebing sungai Kampar saat itu adalah pangkalan Melako, Pangkalan Panduk dan Pangkalan Bunut. Ketinggian bono semasa itu bisa mencapai 6-7 meter, namun saat ini gelombang bono hanya berkisar 3-4 meter saja. Kedahsatan gelombang bono ini menjadi daya tarik para peselancar manca negara untuk menaklukannya di awali tahun 2010 diantaranya peselancar dari Perancis, Jerman, Amerika, Italia, Australia, Afrika Selatan, Cina, Singapura dan Indonesia sendiri. Kelebihan dan keunikan gelombang bono dengan gelombang lainnya:

  • Gelombang bono terjadi di perairan sungai dengan jarak tempuh ± 30 Km
  • Para peselancar dapat merasakan sensasi diatas diatas papan selancar satu sampai satu setengah jam
  • Gelombang bono tidak terjadi setiap saat tetapi pada waktu tertentu
  • Gelombang bono memiliki tujuh gelombang yang bebeda kedahsyatannya, oleh para peselancar manca negara disebut Seven ghost.

Menurut legenda lainnya konon Bono di sungai Kampar adalah Bono Jantan sedangkan Bono betinanya berada di sungai Rokan. Bono di sungai Kampar dulunya berjumlah 7 (tujuh) ekor dan yang satunya ditembak oleh orang Belanda sehingga yang tinggal sekarang hanya 6 (enam) ekor. Di musim Pasang mati Bono ini pergi menuju betinanya di sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Melaka. Apabila pasang mulai membesar kembalilah mereka ke tempat masing-masing, semakin besar arus pasang semakin gembiralah mereka berpacu memudiki sungai.

Bagi masyarakat tempatan yang sudah terbiasa dengan kedatangan Bono dan bernyali besar. Kedatangan Bono disambut dengan memacukan kapal motornya meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar, atraksi ini oleh penduduk tempatan disebut “BEKUDO BONO”, Karena mirip dengan atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar. Bono ini dapat dilihat pada setiap bulan pada saat terjadi pasang besar, namun pada akhir tahun atau pada musim Barat, Bono akan terjadi lebih besar. 

Untuk mencapai Kecamatan Teluk Meranti tempat gelombang bono ini dapat ditempuh melalui

  • Bandar udara Sultan Sarif Kasim II Pekanbaru-Pangkalan Kerinci-Teluk Meranti dengan waktu tempuh ± lima jam mengunakan angkutan darat
  • Bendara Hang Nadim Batam-Tanjungbatu/Kundur-Penyalai-Teluk Meranti dengan jarak Tempuh ± 5 jam, melalui jalur laut mengunakan transportasi air speed boat.
  • Pelabuhan Buton Siak Pangkalan Kerinci-Teluk Meranti dengan jarak tempuh ± 5 jam mengunakan transportasi darat

Dari Pangkalan Kerinci bisa ditempuh dua jalur yaitu jalur darat dan jalur sungai dengan waktu tepuh masing-masing ± 3 jam.***

Baca Juga  Wabup Khairizal Minta Ormas Jalankan Fungsi Sebagai Wadah Aspirasi Masyarakat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan Masukkan Komentarmu
Silakan Masukkan Nama Disini