80 Ton Bibit Kedelai Bantuan APBN 2016 di Rohul Rendah Daya Tumbuhnya

0

ROHUL, gomediaku.com-Uji laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Tanaman Pangan dan Holtikultura Riau, terhadap benih kacang kedelai varietas Grobogan bantuan APBN 2016 diberikan ke petani di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), tidak penuhi standar yang telah ditentukan, jarena daya tumbuhnya rendah.

Dari sampel bibit kedelai diuji, sesuai label kadar air seharusnya 9,9 persen. Namun hasil uji laboratorium kadar air sekira 11,7 persen. Daya tumbuh juga seharusnya 75 persen, namun hasil lab menunjukan hanya 33 persen.

Bibit kedelai bantuan APBN 2016 ini diuji oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Riau, setelah sebelumnya petani di Desa Menaming, Kecamatan Rambah mengeluhkan karena daya tumbuh bibit kedelai bantuan pemerintah pusat dipertanyakan. Ada bibit yang tidak tumbuh, dan ada tumbuh kerdil.

Petani mengakui daya tumbuh bibit kedelai varietas Grobogan dari produsen CV. Mekar Mulyo Sari, Jl. Mangesti Gentan, Baki, Sukoharjo, bantuan pemerintah pusat tahun ini masih kalah dengan bibit kedelai lokal.

Varietas Grobogan ini merupakan benih bersertifikat dari BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih), Jawa Tengah. Kacang kedelai jenis ini dipilih untuk kegiatan Pengembangan Budidaya Kedelai Kegiatan PAT-PIP Kedelai (ekstensifikasi) 2016, karena bentuknya lebih besar dari varietas lain.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kabupaten Rohul Mubrizal SP,MMA, mengakui bahwa faktor utama bantuan bibit kedelai dari pemerintah tidak tumbuh dan tumbuh kerdil karena daya tumbuh kurang.

”Setelah dilakukan uji labor ternyata benih kacang kedelai itu hanya 33 persen,” kata Mubrizal kepada wartawan, Rabu ( 27/4)

Pada tahun ini, diakui Mubrizal, Pemkab Rohul menerima bantuan bibit kedelai varietas Grobogan sekira 80 ton, dan bantuan pupuk organik cair yang belum disalurkan karena masih dalam pengadaan.

Baca Juga  Peringati Hari Anak Nasional, Wabup Sukiman Ajak untuk Akhiri Kekerasan pada Anak

Sasaran bantuan bibit kedelai sendiri merupakan petani Palawija, atau petani yang belum pernah menanam kedelai. Kacang ini ditanam sambil menunggu musim tanam padi.

Mubrizal memperkirakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya tumbuh bibit kedelai, seperti lamanya penyimpanan di gudang, lama penanaman, lama pengangkutan ke Rohul pakai truk, dan bisa saja faktor teknis seperti kondisi tanah tidak sesuai dengan varietas bibit kedelai bantuan.

Diakuinya, selain di Desa Menaming, petani di Surau Munai, Kecamatan Rambah Hilir juga merasakan hal serupa. Walau ditanam bersebelahan, namun ada benih kedelai yang tidak tumbuh, justru di sebelahnya tumbuh subur.

”Kita tak mau merugikan petani, sebab itu bibit akan tetap diganti oleh produsen, karena sudah ada kesepakatan dengan rekanan sebelumnya,” jelas Mubrizal, dan mengakui staf Dinas TPH Rohul sudah turun ke lapangan mengecek daya tumbuh bibit kedelai bantuan.

Dampak kurangnya daya tumbuh bibit kedelai bantuan pemerintah, sambung Mubrizal, tentu terjadi pemunduran musim tanam Palawija. Seharusnya penanaman kedelai dilakukan awal April, sebab itu musim tanam padi akan dilakukan setelahnya.

”Kalau memang tidak cocok tanahnya, bantuan (bibit kedelai) ini akan dialihkan ke daerah lain. Atau diganti varietas lain,” tuturnya.

Mubrizal menambahkan sebenarnya bibit kedelai varietas Grobogan sudah pernah ditanam pada 2015, dan hasilnya bagus. Ia sendiri heran mengapa bantuan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. (Yus)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan Masukkan Komentarmu
Silakan Masukkan Nama Disini